saya

saya

Jumat, 17 Januari 2014

PENILAIAN SIKAP


     A.   PENGERTIAN PENILAIAN SIKAP
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa Penilaian Sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti Penilaian Sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, Penilaian Sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, Penilaian Sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka Terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan Sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu.
Penilaian Sikap  adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) Penilaian Sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Penilaian Sikap peserta didik terhadap objek misalnya Penilaian Sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Penilaian Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Penilaian Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat Penilaian Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
    B.     KOMPONEN PENILAIAN SIKAP
Menurut Walgito, “Penilaian Sikap mengandung tiga komponen: kognitif (konseptual), afektif (emosional), konatif (perilaku atau action component).
 Ø  Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu pemilik Penilaian Sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotipe yang dimiliki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini) terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang kontroversial.
 Ø  Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional.Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen Penilaian Sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah Penilaian Sikap seseorang komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu.
 Ø  Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan Penilaian Sikap yang dimiliki oleh seseorang. Dan berisi tendensi atau kecenderungan untuk bertindak / bereaksi terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu. Dan berkaitan dengan objek yang dihadapinya adalah logis untuk mengharapkan bahwa Penilaian Sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk tendensi perilaku.

   C.     TINGKATAN PENILAIAN SIKAP
Menurut Azwar (2005) Penilaian Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yakni:
1.      Menerima (receiving).
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

2.      Merespon (responding).
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi Penilaian Sikap karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang itu menerima ide tersebut.
3.      Menghargai (valuing).
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi Penilaian Sikap tingkat tiga, misalnya seorang mengajak ibu yang lain (tetangga, saudaranya, dsb) untuk menimbang anaknya ke posyandu atau mendiskusikan tentang gizi adalah suatu bukti bahwa si ibu telah mempunyai Penilaian Sikap positif terhadap gizi anak.
4.      Bertanggung jawab (responsible).
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai Penilaian Sikap yang paling tinggi. Misalnya seorang ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapatkan tantangan dari mertua atau orang tuanya sendiri.

     D.     OBJEK PENILAIAN SIKAP DALAM PROSES PEMBELAJARAN
1.  Penilaian sikap terhadap materi pelajaran
Siswa perlu memiliki Penilaian Sikap positif terhadap mata pelajaran. Dengan Penilaian Sikap positif dalam diri siswa akan tumbuh dan berkembang minat belajar, akan lebih mudah diberi motivasi, dan akan lebih mudah menyerap materi pelajaran yang diajarkan. Oleh karena itu, guru perlu menilai tentang Penilaian Sikap siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan.
2.  Penilaian sikap terhadap guru/pengajar
Siswa perlu memiliki Penilaian Sikap positif terhadap guru, yang mengajar suatu mata pelajaran. Siswa yang memiliki Penilaian Sikap yang tidak positif terhadap guru, akan cenderung mengabaikan hal-hal yang diajarkan. Dengan demikian, siswa yang memiliki Penilaian Sikap negative terhadap guru pengajar akan sukr menyerap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut.
3.  Penilaian sikap terhadap proses pembelajaran
Siswa juga perlu memiliki Penilaian Sikap positif terhadap proses pembelajaran yang berlangsung. Proses pembelajaran disini mencakup: suasana pembelajaran, strategi, metodologi, dan teknik pembelajaran yang digunakan. Tidak sedikit siswa yang merasa kecewa atau tidak puas dengan proses pembelajaran yang berlangsung, namun mereka tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan. Akibat mereka terpaksa mengikuti proses pembelajaran yang belangsung dengan perasaan yang kurang nyaman. Hal ini dapat mempengaruhi terhadap penyerapan materi pelajaran.

    E.      TEHNIK PENILAIAN PENILAIAN SIKAP
       1.      OBSERVASI PERILAKU
Perilaku seseorang pada umumnya menunjukan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya, orang yang biasa minum kopi, dapat dipahami sebagai ecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap siswa yang dibinanya. Hasil observasi dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan.
      2.  PERTANYAAN LANGSUNG
Guru juga dapat mennyakan secara lngsung tentang Penilaian Sikap siswa berkaitan dengan sesuaut hal. Misalnya, bagaimana tanggapan siswa tentang kebijakkan yang baru diberlakukan di sekolah tentang “ Peningkatan Ketertiban”. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain dari siswa dalam memberi jawaban dapat dipahami Penilaian Sikapnya terhadap objek Penilaian Sikap tersebut. Guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai Penilaian Sikap dan membina siswa.
    3.   LAPORAN PRIBADI
Penggunaan teknik ini di sekolah, misalnya: siswa diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah, keadaan, atau hal, yang menjadi objek Penilaian Sikap. Misalnya, siswa diminta menulis pandangannya tentang “Kerusuhan Antaretnis” yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Dari ulasan yang dibuat oleh siswa tersebut dapat dapat dibaca dan dipahami kecenderungan Penilaian Sikap yang dimilikinya  Teknik ini agak sukar digunakan dalam mengukur dan menilai Penilaian Sikap siswa secara klasikal. Guru memerlukan waktu lebih banyak untuk membaca dan memahami Penilaian Sikap seluruh siswa
    4.    Skala penilaian sikap
Ada beberapa model skala yang dikembangkan oleh para pakar untuk mengukur Penilaian Sikap. Dalam naskah ini akan diuraikan dua model saja, yakni Skala Diferensiasi Semantik (Semantic Differential Techniques) dan Skala Likert (Likert Scales). Dua model ini dipilih karena mudah dan bermanfaat untuk diimplementasikan oleh guru dalam proses pembelajaran di kelas. Teknik pengembangan dan penggunaan kedua model tersebut akan diuraikan secara lebih rinci dalam bab berikut.
Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif  seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya skala Penilaian Sikap. Hasilnya berupa kategori Penilaian Sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Penilaian Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Ada tiga komponen Penilaian Sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu, Penilaian Sikap   selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu.
Skala Penilaian Sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif.
Salah satu skala Penilaian Sikap yang sering digunakan adalah skala Likert. Dalam skala Likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan, baik pernyataan positif maupun negatif, dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju.
    F. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENILAIAN SIKAP

Sebagai suatu paradigma baru, penilaian sikap memiliki keunggulan-keunggulan dalam pelaksanaannya pada waktu proses belajar mengajar berlangsung.
Adapun keunggulan dalam penilaian sikap antara lain:
 Ø  Menumbuhkan rasa percaya diri, karena peserta didik diminta untukmenilai dirinya sendiri.
 Ø  Peserta didik dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri,karena metode ini merupakan metode untuk introspeksi diri.
 Ø  Peserta didik dapat termotivasi untuk berbuat jujur dan objektif dalammenyikapi suatu hal.
 Ø  Termotivasi untuk selalu berbuat baik kepada siapapun, misalnya berkatajujur, tidak sombong, pemaaf, tidak berzina serta memelihara amanah danjanji.
Disamping keunggulan-keunggulannya penilaian sikap juga memiliki kekurangan yaitu:
 Ø  Sulit merumuskan instrumennya.
 Ø  Didalam pelaksanaannya rentan terhadapsubyektifitas guru.
 Ø  Memerlukan waktu yang panjang.

    G.  CONTOH PENILAIAN SIKAP
Kompetensi siswa dalam Penilaian Sikap yang perlu dinilai utamanya menyangkut perilaku siswa dalam belajar. Secara teknis penilaian Penilaian Sikap dilakukan melalui dua hal yaitu:
Ø  laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim,
Ø  pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan.
Penilaian Sikap tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah:
1.      Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala,  kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian
2.      Merespon,  meliputi merespon secara  diam-diam, bersedia merespon, merasa  puas  dalam merespon, mematuhi peraturan
3.      Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai
4.      Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai.


DAFTAR PUSTAKA

Budiwanto, Setyo & Muarifin. 2006. Evaluasi dalam Pembelajaran. Malang.
Sanjaya,Wina.2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
http://mnur91.blogspot.com/
Gerungan, Dr. W.A. 2009. Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama
Azwar, Saifuddin. 2009. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
http://sinausosiologi.blogspot.com/2010/06/makalah-pengukuran-sikap-i.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar