saya

saya

Kamis, 19 Desember 2013

Authentik Assessment


Authentik Assessment

A.  Pengertian Penilaian Autentik
Penilaian Autentik adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, penilaian ini tidak dilakukan di akhir periode saja (akhir semester). Kegiatan penilaian dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.
Mueller (2008) mengemukakan bahwa penilaian autentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks dunia “nyata” yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa memunyai lebih dari satu macam pemecahan. Dengan kata lain, asesmen autentik memonitor dan mengukur kemampuan siswa dalam bermacam-macam kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi dalam situasi atau konteks dunia nyata dan dalam suatu proses pembelajaran nyata.
Penilaian autentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks “dunia nyata”, yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam pemecahan. Dengan kata lain, assessment otentik memonitor dan mengukur kemampuan siswa dalam bermacam-macam kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi dalam situasi atau konteks dunia nyata. Dalam suatu proses pembelajaran, penilaian autentik mengukur, memonitor dan menilai semua aspek hasil belajar (yang tercakup dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor), baik yang tampak sebagai hasil akhir dari suatu proses pembelajaran, maupun berupa perubahan dan perkembangan aktivitas, dan perolehan belajar selama proses pembelajaran didalam kelas maupun diluar kelas. Penilaian otentik juga disebut dengan penilaian alternatif. Pelaksanaan penilaian autentik tidak lagi menggunakan format-format penilaian tradisional (multiple-choice, matching, true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu performasi dalam memecahkan suatu masalah. Format penilaian ini dapat berupa : a) tes yang menghadirkan benda atau kejadian asli ke hadapan siswa (hands-on penilaian), b) tugas (tugas ketrampilan, tugas investigasi sederhana dan tugas investigasi terintegrasi), c) format rekaman kegiatan belajar siswa (misalnya : portfolio, interview, daftar cek, presentasi oral dan debat).
B.   Tujuan Penilaian Autentik
Tujuan dari penilaian adalah untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi.
1.    Sebagai grading, penilaian ditujukan untuk menentukan atau membedakan kedudukan hasil kerja peserta didik dibandingkan dengan peserta didik lain. Penilaian ini akan menunjukkan kedudukan peserta didik dalam urutan dibandingkan dengan anak yang lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading ini cenderung membandingkan anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu kepada penilaian acuan norma (norm-referenced assessment).
2.    Sebagai alat seleksi, penilaian ditujukan untuk memisahkan antara peserta didik yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak. Peserta didik yang boleh masuk sekolah tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini, fungsi penilaian untuk menentukan seseorang dapat masuk atau tidak di sekolah tertentu.
3.    Untuk menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai kompetensi.
4.    Sebagai bimbingan, penilaian bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
5.    Sebagai alat diagnosis, penilaian bertujuan menunjukkan kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan membantu guru menentukan apakah seseorang perlu remidiasi atau pengayaan.
6.    Sebagai alat prediksi, penilaian bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat memprediksi bagaimana kinerja peserta didik pada jenjang pendidikan berikutnya atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh dari penilaian ini adalah tes bakat skolastik atau tes potensi akademik.
Dari keenam tujuan penilaian tersebut, tujuan untuk melihat tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, dan diagnostik merupakan peranan utama dalam penilaian. Untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi penilaian yang paling tepat adalah penilaian otentik.
Sedangkan prinsip dari penilaian autentik adalah sebagai berikut :
1.           keeping track, yaitu harus mampu menelusuri dan melacak kemampuan siswa sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah di tetapkan.
2.           Checking up, yaitu harus mampu mengecek ketercapaian kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran.
3.           Finding out, yaitu penilaian harus mampu mencari dan menemukan serta mendeteksi kesalahan-kesalahan yang menyebabkan terjadinya kelemahan dalam proses pembelajaran.
4.           Summing up, yaitu penilaian harus mampu menyimpulkan apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang ditetapkan atau belum. 

C.  Prosedur Untuk Merancang Authentic Assessment
Sudrajat (2007) menjelaskan bahwa karakteristik penilaian autentik yang utama adalah dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang diukur keterampilan dan perfomansi bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintegerasi, dan dapat digunakan sebagai feed back . Lewin & Shoemaker (1998 dalam Johnson (2009) menjelaskan bahwa untuk merancang penilaian autentik hendaklah memperhatikan beberapa prosedur berikut:
1.      Jelaskan dengan tepat apa yang harus diketahui dan bisa dikerjakan oleh para siswa. Beritahukan kepada mereka standar yang harus dipenuhi
2.      Hubungkan pelajaran akademik dengan konteks dunia nyata dengan cara penuh makna, atau lakukan stimulasi dengan konteks dunia nyata yang penuh makna
3.      Tugaskan para siswa untuk menunjukan apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang mereka ketahui, untuk memperhatikan keterampilan dan kedalaman pengetahuan mereka, dengan memproduksi hasil-contohnya, produk nyata, presentasi, dan koleksi hasil tugas
4.      Putuskan tingkat penguasaan yang harus tercapai
5.      Tampilkan tingkat penguasaan tersebut dalam sebuah rubrik, yaitu dalam bentuk pedoman penilaian yang dilengkapi dengan kriteria.
6.      Biasakan para siswa dengan rubric tersebut. Ajak para siswa untuk terus menerus melakukan penilaian diri saat mereka meilai kerja mereka sendiri.
7.      Libatkan sekelompok orang lain selain guru untuk menanggapi penilaian ini.

D. Implementasi Asesmen Autentik

1.      Asesmen Kinerja
Asesmen kinerja adalah suatu prosedur yang menggunakan berbagai bentuk tugas-tugas untuk memperoleh informasi tentang apa dan sejauhmana yang telah dilakukan dalam suatu program. Pemantauan didasarkan pada kinerja (performance) yang ditunjukkan dalam menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan yang diberikan. Hasil yang diperoleh merupakan suatu hasil dari unjuk kerja tersebut.
Terdapat tiga komponen utama dalam asesmen kinerja, yaitu tugas kinerja (performance task), rubrik performansi (performance rubrics), dan cara penilaian (scoring guide). Tugas kinerja adalah suatu tugas yang berisi topik, standar tugas, deskripsi tugas, dan kondisi penyelesaian tugas. Rubrik performansi merupakan suatu rubrik yang berisi komponen-komponen suatu performansi ideal, dan deskriptor dari setiap komponen tersebut. Cara penilaian kinerja ada tiga, yaitu (1) holistic scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan impresi penilai secara umum terhadap kualitas performansi; (2) analytic scoring, yaitu pemberian skor terhadap aspek-aspek yang berkontribusi terhadap suatu performansi; dan (3) primary traits scoring, yaitu pemberian skor berdasarkan beberapa unsur dominan dari suatu performansi.


2.      Evaluasi Diri
            Salvia dan Ysseldike (1996) menekankan bahwa refleksi dan evaluasi diri merupakan cara untuk menumbuhkan rasa  kepemilikan (ownership), yaitu timbul suatu pemahaman bahwa apa yang dilakukan dan dihasilkan peserta didik tersebut memang merupakan hal yang berguna bagi diri dan kehidupannya.
Rolheiser dan Ross (2005) mengajukan suatu model teoretik untuk menunjukkan kontribusi evaluasi diri terhadap pencapaian tujuan. Model tersebut menekankan bahwa, ketika mengevaluasi sendiri performansinya, peserta didik terdorong untuk menetapkan tujuan yang lebih tinggi (goals). Untuk itu, peserta didik harus melakukan usaha yang lebih keras (effort). Kombinasi dari goals dan effort ini menentukan prestasi (achievement); selanjutnya prestasi ini berakibat pada penilaian terhadap diri (self-judgment) melalui kontemplasi seperti pertanyaan, ‘Apakah tujuanku telah tercapai’? Akibatnya timbul reaksi (self-reaction) seperti ‘Apa yang aku rasakan dari prestasi ini?’

3.      Esai
(Tes) esai menghendaki peserta didik untuk mengorganisasikan, merumuskan, dan mengemukakan sendiri jawabannya. Ini berarti peserta didik tidak memilih jawaban, akan tetapi memberikan jawaban dengan kata-katanya sendiri secara bebas.
            Tes esai dapat digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu tes esai jawaban terbuka (extended-response) dan jawaban terbatas (restricted-response) dan hal ini tergantung pada kebebasan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengorganisasikan atau menyusun ide-idenya dan menuliskan jawabannya. Pada tes esai bentuk jawaban terbuka atau jawaban luas, peserta didik mendemonstrasikan kecakapannya untuk: (1) menyebutkan pengetahuan faktual, (2) menilai pengetahuan faktualnya, (3) menyusun ide-idenya, dan (4) mengemukakan idenya secara logis dan koheren. Sedangkan pada tes esai jawaban terbatas atau terstruktur, peserta didik lebih dibatasi pada bentuk dan ruang lingkup jawabannya, karena secara khusus dinyatakan konteks jawaban yang harus diberikan oleh peserta didik. Esai terbuka/tak terstruktur merupakan bentuk asesmen autentik.

4.      Asesmen Portofolio
            Portofolio adalah sekumpulan artefak (bukti karya/kegiatan/data) sebagai bukti (evidence) yang menunjukkan perkembangan dan pencapaian suatu program. Penggunaan portofolio dalam kegiatan evaluasi sebenarnya sudah lama dilakukan, terutama dalam pendidikan bahasa. Belakangan ini, dengan adanya orientasi kurikulum yang berbasis kompetensi, asesmen portofolio menjadi primadona dalam asesmen berbasis kelas.
Bagaimanakah asesmen portofolio membantu memantau pencapaian target kompetensi? Asesmen portofolio adalah suatu pendekatan asesmen yang komprehensif karena: (1) dapat mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor secara bersama-sama, (2) berorientasi baik pada proses maupun produk belajar, dan (3) dapat memfasilitasi kepentingan dan kemajuan peserta didik secara individual. Dengan demikian, asesmen portofolio merupakan suatu pendekatan asesmen yang sangat tepat untuk menjawab tantangan KBK.
Asesmen portofolio mengandung tiga elemen pokok yaitu: (1) sampel karya peserta didik, (2) evaluasi diri, dan (3) kriteria penilaian yang jelas dan terbuka.
5. Projek
            Projek, atau seringkali disebut pendekatan projek (project approach) adalah investigasi mendalam mengenai suatu topik nyata. Dalam projek, peserta didik mendapat kesempatan mengaplikasikan keterampilannya. Pelaksanaan projek dapat dianalogikan dengan sebuah cerita, yaitu memiliki awal, pertengahan, dan akhir projek.

E. KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN ASESMEN AUTENTIK
a.         Keuntungan penilaian autentik
Beberapa keuntungan dari asesmen autentik adalah:
1.   Asesmen autentik berorientasi kepada penilaian proses pembelajaran, dengan demikian melalui penilaian otentik guru akan dapat mengetahui dimana kelebihan dan kelemahan dari siswa.
2.   Asesmen autentik dapat menggambarkan pencapaian seorang siswa dalam pembelajaran berupa gain atau kemajuan belajar, tidak sekedar ditunjukkan dengan angka-angka yang dinyatakan dalam rapor.
3.   Penilaian dan hasil yang lebih autentik akan meningkatkan proses belajar mengajar, siswa lebih jelas mengetahui kewajiban-kewajiban mereka untuk menguasai tugas-tugas yang diberikan, dan guru yakin bahwa hasil-hasil asesmen itu bermakna dan berguna untuk meningkatkan pengajaran.

b.        Kelemahan penilaian autentik
Beberapa aspek negatif dari asesmen otentik antara lain:
1.   Biaya asesmen autentik lebih banyak dibanding tes-tes standar.
2.   Asesmen otentik mungkin kurang reliabel dan valid dibanding bentuk-bentuk asesmen lain.
3.   Bagi guru yang menggunakan asesmen otentik dalam kelas, dituntut untuk lebih  pengembangkan pendidikan dan profesionalitas
4.   Asesmen autentik tidak seberguna tes-tes standar bagi para pembuat kebijakan karena asesmen autentik tidak dapat memperlihatkan trend-trend jangka panjang seperti tes-tes standar


DAFTAR PUSTAKA


i.    Abdul Majid, S.Ag, M.Pd, (2008) Perencanaan Pembelajaran  Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
ii.   Anas S, Drs, Prof (1995). Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
iii.  Arikunto, S. dan Abdul Jabar, (2004). Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.

ANALISIS BUTIR TEST (PROGRAM ANATES)


PEMBAHASAN
ANALISIS BUTIR TEST (PROGRAM ANATES)

A.      Pengertian Analisis Butir Test
Analisis butir soal yang dalam bahasa inggris disebut item analiysis dilakukan terhadap empirik.Maksudnya, analisis itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan dan hasil jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh.
Analisis butir soal adalah suatu kegiatan analisis untuk menentukan tingkat kebaikan butir-butir soal yang terdapat dalam suatu tes sehingga informasi yang dihasilkan dapat kita pergunakan untuk memperbaiki butir soal dan tes tersebut.Ada dua macam analisis butir soal yaitu analisis butir soal secara kualitatif dan analisis butir soal secara kuantitatif.
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal. Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya. Adapun analisis butir soal secara kuantitatif adalah pengujian terhadap soal dengan cara menganalisa data empirik hasil tes. Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif, yaitu pendekatan secara klasik dan modern. Selanjutnya pembahasan analisis butir soal di sini dibatasi untuk analisis butir soal dengan menggunakan pendekatan secara klasik.
Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap butir soal ditelaah dari segi tingkat kemudahan butir, daya pembeda butir, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.
B.       Tujuan Analisis Butir

Analisis tes hasil belajar merupakan kegiatan penting dalam upaya memperoleh instrumen yang berkategori baik. Analisis ini meliputi (1) menentukan validitas dan realibilitas tes, dan (2) analisis butir (item analysis).
Menurut Thorndike dan Hagen (Purwanto, 1992) analisis terhadap butir tes yang telah di jawab siswa suatu kelas mempunyai dua tujuan yakni (1) jawaban-jawaban soal tersebut merupakan informasi diagnostik untuk meneliti pelajaran dari kelas itu dan kegagalan-kegagalan belajarnya, serta selanjutnya untuk membimbing ke arah cara belajar yang lebih baik; dan (1) jawaban terhadap soal dan perbaikan (review) soal-soal yang didasarkan atas jawaban-jawaban tersebut merupakan dasar bagi penyiapan tes-tes yang lebih baik.
Dengan melakukan analisis butir sedikitnya kita dapat mengetahui empat hal penting, yakni:
·           Bagaimana taraf kekuasaan setiap butir tes?
·           Apakah setiap soal memiliki daya pembeda baik?
·           Apakah setiap soal memiliki daya pembeda baik?
·           Sejauh mana tiap butir tes dapat mengukur hasil pembelajaran?

C.      Analisis Butir Tes Acuan Norma

Tujuan penilai acuan norma adalah untuk mengetahui posisi kemampuan seorang siswa di dalam kelompok. Misalkan ingin mengetahui kualitas instrumen tes objektif yang menggunakan acuan norma. Untuk itu, setelah instrumen tes tersebut kita buat (susun), maka kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut:
1.      Berikan instrumen tes tersebut untuk dikerjakan siswa.
2.      Periksa hasil pekerjaan siswa dan berikan skor. Butir yang benar diberi skor 1, sedangkan butir yang salah diberikan skor 0
3.      Daftar skor setiap siswa dalam tabel, terurut dari yang tertinggi sampai dengan terendah (untuk menghitung reliabilitas)
4.      Pilih 27% siswa yang mendapat skor tertinggi (disebut kelompok atas). Misalkan siswa yang mengikuti tes berjumlah 30 orang. Maka kita pilih 8 orang pada kelompok atas dan 8 orang pada kelompok bawah. Ini berguna untuk menghitung indeks kesuksesan, daya pembeda dan efektivitas option.
5.      Kemudian selain menghitung (menetapkan) reliabilitas dan validitas instrumen, kita perlu menentukan indeks kesukaran, daya pembeda, korelasi point biserial, dan efektivitas option.

Berikut akan diuraikan secara garis besar mengenai indeks kesukaran, daya pembeda, korelasi point biserial, dan efektivitas option secara contoh perhitungannya.

a.     Tingkat Kesukaran
Suatu instrumen tes yang baik memiliki butir-butir dengan tingkat kesukaran yang proporsional. Maksudnya instrumen tersebut tidak didominasi butir-butir yang relatif mudah. Cara melakukan analisis untuk menentukan tingkat kesukaran soal adalah sebagai berikut :
1). Menentukan indeks kesukaran (difficulty index), yaitu bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya sesuatu soal. Dalam dunia evaluasi belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P (proporstion).
Rumus mencari indeks kesukaran soal :
P= B/Js x 100 %
Dengan:
·         P=Indeks kesukaran
·         B= banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
·         Js= jumlah seluruh siswa peserta tes
2). Menentukan tingkat kesukaran, adalah ukuran yang menunjukan derajat kesulitan soal untuk diselesaikan oleh siswa dan mengetahui soal-soal yang termasuk mudah, sedang dan sukar.
Rumus mencari tingkat kesukaran soal
Tk=JB/JJ x 100 %
Dengan:
·         TK= Tingkat kesukaran
·         JB= Jumlah jawaban yang benar
·         JJ= Jumlah jawaban keseluruhan
F=(PH+PL)/2
Dengan:
·         F =Tingkat kesukaran
·         PH = Prosentase pada kelompok tinggi
·         PL = Prosentase pada kelompok renda

Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran adalah sebagai berikut

Tabel 6.1 Kriteria Indeks Kesukaran Butir 
Indeks Daya Pembeda
Kategori
           p  ≤ 0,25
Sukar
0,25 < p ≤ 0,75
Sedang
0,75 < p
Mudah


b.     Daya Pembeda
Daya pembeda suatu butir menyatakan seberapa jauh kemampuan butir tersebut mampu membedakan antara kelompok testi (siswa) pandai dengan kelompok testi (siswa) lemah.
            
Daya pembedaan (D) butir tes dihitung dengan rumus :

            D = PH - PL
           

 Keterangan
D    = Indeks Daya Pembeda
PH   = Proporsi Siswa kelompok atas yang menjawab benar butir tes
PL    = Proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab benar butir tes

Daya pembeda ini sekurang-kurangnya harus berkualitas cukup kriteria yang digunakan untuk menetukan indeks daya pembeda adalah sebagai berikut



Tabel 6.3 Penafsiran Indeks Daya Pembeda
Indeks Daya Pembeda
Kategori
0,40 < D
Butir sangat baik
0,30 < D ≤ 0,40
Butir baik
0,20 < D ≤ 0,30
Butir cukup
           D ≤ 0,20
Butir jelek



c.       Kelorasi Point Biserial

Satu situasi yang sering terjadi dalam analisis butir adalah jika pengembangan tes ingin mengetahui seberapa jauh hubungan antara jawaban pada suatu butir tes yang diskor secara dikotomis (0 dan 1) dengan skor total (atau kriteria lain yang memiliki distribusi secara kontinyu). Untuk keperluan ini digunakan rumus korelasi point berserial, yakni:
           
 Keterangan
   = koefisien korelasi point biserial
      = Rata-rata skor dari subjek yang menjawab benar untuk butir soal yang akan dicari validitasnya
      = Rata-rata skor total
St           = simpangan baku skor total
P         = Proposal siswa yang menjawab benar pada butir soal dinamakan
q          = proposal siswa yang menjawab salah pada butir soal dimaksud


D.    Analisis Butir Tes Acuan Patokan

Tujuan penilaian acuan patokan adalah untuk mengetahui kemampuan seseorang menurut patokan tertentu. Syarat penilaian ini adalah (1) butir soal yang digunakan harus mencerminkan indikator kemampuan yang diharapkan (ditargetkan), dan (2) kemampuan yang diharapkan tersebut adalah kemampuan yang tidak dapat dikuasai siswa sebelumnya siswa mengikuti proses pembelajaran
Dalam analisis butir tes acuan patokan, yang perlu ditentukan (dianalisis) adalah (1) indeks kesukaran butir, (2) indeks sensivitas butir, dan (3) indeks persesuaian,  indeks kesukaran butir telah dibahas pada bagian analisis butir penilaian acuan norma, oleh karena itu tidak lagi dibahas pada bagian ini.

1.         Indeks sensitivitas butir
Indeks sinsitivitas butir pada dasarnya merupakan ukuran seberapa baik tersebut membedakan antara siswa yang telah dan yang belum mengikuti KMB. Cox dan Vargas (Crocker dan Algina, 1986), memperkenalkan prosedur penentuan sensitivitas pembelajaran dengan cara memberikan pre-test dan post-tes kepada kelompok siswa yang sama. Statistik daya pembeda dinyatakan sebagai:
D = Ppost - Ppre
Keterangan
Ppost      = Proporsi yang menjawab butir soal secara benar pada post-test
PPre       = Proporsi yang menjawab butir soal secara benar pada pre-test 

Masih 30 siswa mengajarkan suatu tes yang terdiri atas 10 butir, sebelum dan sesudah pembelajaran. Hasil tes tersebut dan sensitivitas butirnya disajikan pada tabel berikut:
Indeks sensitivitas butir yang efektif berada di antara 0,00 – 1.00. Semakin besar indeks sensitivitas butir menunjukkan semakin besar keberhasilan pembelajarannya.

2.        Indeks Persesuaian
Ada kalanya pengembangan tes perlu mengkaji kemiripan jawaban dari satu kelompok siswa terhadap setiap kemungkinan pasangan butir yang dibuat dengan spesifikasi sama. Untuk menentukan indeks persesuaian digunakan rumus.

Keterangan
n =  Banyaknya siswa keseluruhan
a =  Banyaknya siswa yang menjawab benar kedua butir
b = Banyaknya siswa yang menjawab salah satu butir 1, tetapi benar pada butir 2
c  = Banyaknya siswa yang menjawab benar butir 1, tetapi salah pada butir 2 
d  = Banyaknya siswa yang menjawab salah kedua butir


 Selanjutnya dapat pula ditentukan proporsi persesuaian yang menunjukkan kekonsistenan dalam menjawab kedua butir. Rumus yang digunakan adalah
P =
Keterangan
P = Proporsi persetujuan 
Selain itu, dapat pula ditentukan apakah taraf kesukaran butir sama dalam populasi siswa. Dengan kata lain, apakah kedua butir tes telah dipelajari siswa dengan cara yang sama baik; ataukah siswa secara signifikan tampil lebih baik pada satu butir dibandingkan dengan butir yang lain untuk itu digunakan rumus.

Misalnya dari hasil uji coba pada 60 siswa diketahui bahwa 30 siswa menjawab kedua butir dengan benar; 12 siswa menjawab butir satu salah tetapi butir dua benar; 8 siswa menjawab butir satu benar tetapi butir dua salah; dan 10 orang yang menjawab kedua butir salah. Data ini dapat dinyatakatan dalam tabel sel berikut

           
Butir 1
Butir 1
+
-
+
-
Butir 2
+
a
b
                       Butir 2
+
30
12
-
c
d
-
8
10

Sehingga didapatkan indeks persesuaiannya
a.       Indeks persesuaian
Nilai X2 ini lebih dari Xtabel = 3,84 (untuk α = 0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua butir tersebut mengukur hal (isi) yang benar.
b.      Proporsi persesuaian
Ini menunjukan bahwa terdapat konsistensi penampilan pada kedua butir tersebut bagi 66,7 % siswa
c.       Uji X2 untuk perbedaan taraf kesukaran butir
Nilai X2 ini kurang dari X2  tabel = 3,84 (untuk a = 0,05). Dengan demikian, taraf kesukaran kedua butir sama. Dengan kata lain, siswa telah belajar sama baiknya terhadap isi yang diukur oleh kedua butir.

  

DAFTAR PUSTAKA