PEMBAHASAN
A.
Pengertian Analisis Butir Test
Analisis butir soal yang dalam bahasa inggris
disebut item analiysis dilakukan terhadap empirik.Maksudnya, analisis itu baru
dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan dan hasil jawaban terhadap
butir-butir soal telah kita peroleh.
Analisis butir soal adalah suatu kegiatan analisis
untuk menentukan tingkat kebaikan butir-butir soal yang terdapat dalam suatu
tes sehingga informasi yang dihasilkan dapat kita pergunakan untuk memperbaiki
butir soal dan tes tersebut.Ada dua macam
analisis butir soal yaitu analisis butir soal secara
kualitatif dan analisis butir soal
secara kuantitatif.
Pada prinsipnya analisis butir soal
secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal. Aspek yang
diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal
ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman
penskorannya. Adapun analisis butir soal secara kuantitatif adalah pengujian
terhadap soal dengan cara menganalisa data empirik hasil tes. Ada dua
pendekatan dalam analisis secara kuantitatif, yaitu pendekatan secara klasik dan modern. Selanjutnya
pembahasan analisis butir soal di sini dibatasi untuk analisis butir soal dengan
menggunakan pendekatan secara klasik.
Analisis butir
soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna
meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir
soal secara klasik adalah setiap butir soal ditelaah dari segi tingkat
kemudahan butir, daya pembeda butir, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal
bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.
B. Tujuan Analisis
Butir
Analisis tes
hasil belajar merupakan kegiatan penting dalam upaya memperoleh instrumen yang
berkategori baik. Analisis ini meliputi (1) menentukan validitas dan
realibilitas tes, dan (2) analisis butir (item analysis).
Menurut
Thorndike dan Hagen (Purwanto, 1992) analisis terhadap butir tes yang telah di
jawab siswa suatu kelas mempunyai dua tujuan yakni (1) jawaban-jawaban soal
tersebut merupakan informasi diagnostik untuk meneliti pelajaran dari kelas itu
dan kegagalan-kegagalan belajarnya, serta selanjutnya untuk membimbing ke arah
cara belajar yang lebih baik; dan (1) jawaban terhadap soal dan perbaikan (review) soal-soal
yang didasarkan atas jawaban-jawaban tersebut merupakan dasar bagi penyiapan
tes-tes yang lebih baik.
Dengan
melakukan analisis butir sedikitnya kita dapat mengetahui empat hal penting,
yakni:
·
Bagaimana taraf kekuasaan setiap butir tes?
·
Apakah setiap soal memiliki daya pembeda baik?
·
Apakah setiap soal memiliki daya pembeda baik?
·
Sejauh mana tiap butir tes dapat mengukur hasil pembelajaran?
C. Analisis Butir
Tes Acuan Norma
Tujuan penilai
acuan norma adalah untuk mengetahui posisi kemampuan seorang siswa di dalam
kelompok. Misalkan ingin mengetahui kualitas instrumen tes objektif yang
menggunakan acuan norma. Untuk itu, setelah instrumen tes tersebut kita buat
(susun), maka kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut:
1. Berikan
instrumen tes tersebut untuk dikerjakan siswa.
2. Periksa hasil
pekerjaan siswa dan berikan skor. Butir yang benar diberi skor 1, sedangkan
butir yang salah diberikan skor 0
3. Daftar skor
setiap siswa dalam tabel, terurut dari yang tertinggi sampai dengan terendah
(untuk menghitung reliabilitas)
4. Pilih 27% siswa
yang mendapat skor tertinggi (disebut kelompok atas). Misalkan siswa yang
mengikuti tes berjumlah 30 orang. Maka kita pilih 8 orang pada kelompok atas
dan 8 orang pada kelompok bawah. Ini berguna untuk menghitung indeks
kesuksesan, daya pembeda dan efektivitas option.
5. Kemudian selain
menghitung (menetapkan) reliabilitas dan validitas instrumen, kita perlu
menentukan indeks kesukaran, daya pembeda, korelasi point biserial, dan
efektivitas option.
Berikut akan
diuraikan secara garis besar mengenai indeks kesukaran, daya pembeda, korelasi
point biserial, dan efektivitas option secara contoh perhitungannya.
a.
Tingkat Kesukaran
Suatu instrumen
tes yang baik memiliki butir-butir dengan tingkat kesukaran yang proporsional.
Maksudnya instrumen tersebut tidak didominasi butir-butir yang relatif mudah. Cara melakukan analisis untuk menentukan tingkat
kesukaran soal adalah sebagai berikut :
1). Menentukan indeks kesukaran
(difficulty index), yaitu bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya sesuatu
soal. Dalam dunia evaluasi belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P
(proporstion).
Rumus mencari indeks kesukaran soal :
P= B/Js x 100 %
Dengan:
·
P=Indeks
kesukaran
·
B= banyaknya
siswa yang menjawab soal itu dengan betul
·
Js= jumlah
seluruh siswa peserta tes
2). Menentukan tingkat kesukaran,
adalah ukuran yang menunjukan derajat kesulitan soal untuk diselesaikan oleh
siswa dan mengetahui soal-soal yang termasuk mudah, sedang dan sukar.
Rumus mencari tingkat kesukaran soal
Tk=JB/JJ x 100 %
Dengan:
·
TK= Tingkat
kesukaran
·
JB= Jumlah
jawaban yang benar
·
JJ= Jumlah
jawaban keseluruhan
F=(PH+PL)/2
Dengan:
·
F =Tingkat
kesukaran
·
PH =
Prosentase pada kelompok tinggi
·
PL =
Prosentase pada kelompok renda
Kriteria untuk
menentukan indeks kesukaran adalah sebagai berikut
Tabel 6.1 Kriteria Indeks
Kesukaran Butir
|
Indeks Daya Pembeda
|
Kategori
|
|
p ≤
0,25
|
Sukar
|
|
0,25 < p ≤
0,75
|
Sedang
|
|
0,75 < p
|
Mudah
|
b.
Daya Pembeda
Daya pembeda
suatu butir menyatakan seberapa jauh kemampuan butir tersebut mampu membedakan
antara kelompok testi (siswa) pandai dengan kelompok testi (siswa) lemah.
Daya pembedaan (D) butir tes
dihitung dengan rumus :
D
= PH - PL
Keterangan
D = Indeks
Daya Pembeda
PH =
Proporsi Siswa kelompok atas yang menjawab benar butir tes
PL =
Proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab benar butir tes
Daya pembeda ini
sekurang-kurangnya harus berkualitas cukup kriteria yang digunakan untuk
menetukan indeks daya pembeda adalah sebagai berikut
Tabel 6.3 Penafsiran Indeks Daya
Pembeda
|
Indeks Daya Pembeda
|
Kategori
|
|
0,40 < D
|
Butir sangat
baik
|
|
0,30 < D ≤
0,40
|
Butir baik
|
|
0,20 < D ≤
0,30
|
Butir cukup
|
|
D
≤ 0,20
|
Butir jelek
|
c.
Kelorasi Point Biserial
Satu situasi
yang sering terjadi dalam analisis butir adalah jika pengembangan tes ingin
mengetahui seberapa jauh hubungan antara jawaban pada suatu butir tes yang
diskor secara dikotomis (0 dan 1) dengan skor total (atau kriteria lain yang
memiliki distribusi secara kontinyu). Untuk keperluan ini digunakan rumus
korelasi point berserial, yakni:
Keterangan
= koefisien korelasi
point biserial
=
Rata-rata skor dari subjek yang menjawab benar untuk butir soal yang akan
dicari validitasnya
=
Rata-rata skor total
St =
simpangan baku skor total
P =
Proposal siswa yang menjawab benar pada butir soal dinamakan
q =
proposal siswa yang menjawab salah pada butir soal dimaksud
D. Analisis Butir Tes Acuan Patokan
Tujuan
penilaian acuan patokan adalah untuk mengetahui kemampuan seseorang menurut
patokan tertentu. Syarat penilaian ini adalah (1) butir soal yang digunakan
harus mencerminkan indikator kemampuan yang diharapkan (ditargetkan), dan (2)
kemampuan yang diharapkan tersebut adalah kemampuan yang tidak dapat dikuasai
siswa sebelumnya siswa mengikuti proses pembelajaran
Dalam analisis
butir tes acuan patokan, yang perlu ditentukan (dianalisis) adalah (1) indeks
kesukaran butir, (2) indeks sensivitas butir, dan (3) indeks
persesuaian, indeks kesukaran butir telah dibahas pada bagian
analisis butir penilaian acuan norma, oleh karena itu tidak lagi dibahas pada
bagian ini.
1.
Indeks sensitivitas butir
Indeks sinsitivitas butir pada
dasarnya merupakan ukuran seberapa baik tersebut membedakan antara siswa yang
telah dan yang belum mengikuti KMB. Cox dan Vargas (Crocker dan Algina, 1986),
memperkenalkan prosedur penentuan sensitivitas pembelajaran dengan cara
memberikan pre-test dan post-tes kepada kelompok siswa yang sama. Statistik
daya pembeda dinyatakan sebagai:
D = Ppost - Ppre
Keterangan
Ppost =
Proporsi yang menjawab butir soal secara benar pada post-test
PPre =
Proporsi yang menjawab butir soal secara benar pada pre-test
Masih 30 siswa mengajarkan suatu
tes yang terdiri atas 10 butir, sebelum dan sesudah pembelajaran. Hasil tes
tersebut dan sensitivitas butirnya disajikan pada tabel berikut:
Indeks sensitivitas butir yang
efektif berada di antara 0,00 – 1.00. Semakin besar indeks sensitivitas butir menunjukkan
semakin besar keberhasilan pembelajarannya.
2.
Indeks Persesuaian
Ada kalanya
pengembangan tes perlu mengkaji kemiripan jawaban dari satu kelompok siswa
terhadap setiap kemungkinan pasangan butir yang dibuat dengan spesifikasi sama.
Untuk menentukan indeks persesuaian digunakan rumus.
Keterangan
n
= Banyaknya siswa keseluruhan
a
= Banyaknya siswa yang menjawab benar kedua butir
b = Banyaknya siswa yang menjawab
salah satu butir 1, tetapi benar pada butir 2
c = Banyaknya siswa
yang menjawab benar butir 1, tetapi salah pada butir 2
d = Banyaknya siswa
yang menjawab salah kedua butir
Selanjutnya
dapat pula ditentukan proporsi persesuaian yang menunjukkan kekonsistenan dalam
menjawab kedua butir. Rumus yang digunakan adalah
P =
Keterangan
P = Proporsi
persetujuan
Selain itu,
dapat pula ditentukan apakah taraf kesukaran butir sama dalam populasi siswa.
Dengan kata lain, apakah kedua butir tes telah dipelajari siswa dengan cara
yang sama baik; ataukah siswa secara signifikan tampil lebih baik pada satu
butir dibandingkan dengan butir yang lain untuk itu digunakan rumus.
Misalnya dari
hasil uji coba pada 60 siswa diketahui bahwa 30 siswa menjawab kedua butir
dengan benar; 12 siswa menjawab butir satu salah tetapi butir dua benar; 8
siswa menjawab butir satu benar tetapi butir dua salah; dan 10 orang yang
menjawab kedua butir salah. Data ini dapat dinyatakatan dalam tabel sel berikut
|
|
Butir 1
|
Butir 1
|
|||||
|
+
|
-
|
+
|
-
|
||||
|
Butir 2
|
+
|
a
|
b
|
Butir
2
|
+
|
30
|
12
|
|
-
|
c
|
d
|
-
|
8
|
10
|
||
Sehingga didapatkan indeks
persesuaiannya
a. Indeks
persesuaian
Nilai X2 ini
lebih dari X2 tabel = 3,84 (untuk α = 0,05). Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua butir tersebut mengukur hal (isi) yang
benar.
b. Proporsi
persesuaian
Ini menunjukan bahwa terdapat
konsistensi penampilan pada kedua butir tersebut bagi 66,7 % siswa
c. Uji
X2 untuk perbedaan taraf kesukaran butir
Nilai X2 ini
kurang dari X2 tabel = 3,84 (untuk a = 0,05). Dengan
demikian, taraf kesukaran kedua butir sama. Dengan kata lain, siswa telah
belajar sama baiknya terhadap isi yang diukur oleh kedua butir.
DAFTAR PUSTAKA
Anda Kebingungan Dan Kesulitan Menyelesaikan Skripsi, Tesis, Disertasi
BalasHapusKarena Pusing Mikirin Olah Data Analisis Statistika Dengan ANATES, SPSS, AMOS
LISREL, EVIEWS, SMARTPLS, GRETL, STATA, MINITAB dan DEAP 2.1
Serahkan Dan Percaya Kepada Kami.
Kami Siap Bantu Anda.
Olah Data Semarang (Timbul Widodo)
WhatsApp : 085227746673
PIN BB : D04EBECB
IG : @olahdatasemarang