saya

saya

Kamis, 19 Desember 2013

ANALISIS BUTIR TEST (PROGRAM ANATES)


PEMBAHASAN
ANALISIS BUTIR TEST (PROGRAM ANATES)

A.      Pengertian Analisis Butir Test
Analisis butir soal yang dalam bahasa inggris disebut item analiysis dilakukan terhadap empirik.Maksudnya, analisis itu baru dapat dilakukan apabila suatu tes telah dilaksanakan dan hasil jawaban terhadap butir-butir soal telah kita peroleh.
Analisis butir soal adalah suatu kegiatan analisis untuk menentukan tingkat kebaikan butir-butir soal yang terdapat dalam suatu tes sehingga informasi yang dihasilkan dapat kita pergunakan untuk memperbaiki butir soal dan tes tersebut.Ada dua macam analisis butir soal yaitu analisis butir soal secara kualitatif dan analisis butir soal secara kuantitatif.
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal. Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya. Adapun analisis butir soal secara kuantitatif adalah pengujian terhadap soal dengan cara menganalisa data empirik hasil tes. Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif, yaitu pendekatan secara klasik dan modern. Selanjutnya pembahasan analisis butir soal di sini dibatasi untuk analisis butir soal dengan menggunakan pendekatan secara klasik.
Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap butir soal ditelaah dari segi tingkat kemudahan butir, daya pembeda butir, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.
B.       Tujuan Analisis Butir

Analisis tes hasil belajar merupakan kegiatan penting dalam upaya memperoleh instrumen yang berkategori baik. Analisis ini meliputi (1) menentukan validitas dan realibilitas tes, dan (2) analisis butir (item analysis).
Menurut Thorndike dan Hagen (Purwanto, 1992) analisis terhadap butir tes yang telah di jawab siswa suatu kelas mempunyai dua tujuan yakni (1) jawaban-jawaban soal tersebut merupakan informasi diagnostik untuk meneliti pelajaran dari kelas itu dan kegagalan-kegagalan belajarnya, serta selanjutnya untuk membimbing ke arah cara belajar yang lebih baik; dan (1) jawaban terhadap soal dan perbaikan (review) soal-soal yang didasarkan atas jawaban-jawaban tersebut merupakan dasar bagi penyiapan tes-tes yang lebih baik.
Dengan melakukan analisis butir sedikitnya kita dapat mengetahui empat hal penting, yakni:
·           Bagaimana taraf kekuasaan setiap butir tes?
·           Apakah setiap soal memiliki daya pembeda baik?
·           Apakah setiap soal memiliki daya pembeda baik?
·           Sejauh mana tiap butir tes dapat mengukur hasil pembelajaran?

C.      Analisis Butir Tes Acuan Norma

Tujuan penilai acuan norma adalah untuk mengetahui posisi kemampuan seorang siswa di dalam kelompok. Misalkan ingin mengetahui kualitas instrumen tes objektif yang menggunakan acuan norma. Untuk itu, setelah instrumen tes tersebut kita buat (susun), maka kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut:
1.      Berikan instrumen tes tersebut untuk dikerjakan siswa.
2.      Periksa hasil pekerjaan siswa dan berikan skor. Butir yang benar diberi skor 1, sedangkan butir yang salah diberikan skor 0
3.      Daftar skor setiap siswa dalam tabel, terurut dari yang tertinggi sampai dengan terendah (untuk menghitung reliabilitas)
4.      Pilih 27% siswa yang mendapat skor tertinggi (disebut kelompok atas). Misalkan siswa yang mengikuti tes berjumlah 30 orang. Maka kita pilih 8 orang pada kelompok atas dan 8 orang pada kelompok bawah. Ini berguna untuk menghitung indeks kesuksesan, daya pembeda dan efektivitas option.
5.      Kemudian selain menghitung (menetapkan) reliabilitas dan validitas instrumen, kita perlu menentukan indeks kesukaran, daya pembeda, korelasi point biserial, dan efektivitas option.

Berikut akan diuraikan secara garis besar mengenai indeks kesukaran, daya pembeda, korelasi point biserial, dan efektivitas option secara contoh perhitungannya.

a.     Tingkat Kesukaran
Suatu instrumen tes yang baik memiliki butir-butir dengan tingkat kesukaran yang proporsional. Maksudnya instrumen tersebut tidak didominasi butir-butir yang relatif mudah. Cara melakukan analisis untuk menentukan tingkat kesukaran soal adalah sebagai berikut :
1). Menentukan indeks kesukaran (difficulty index), yaitu bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya sesuatu soal. Dalam dunia evaluasi belajar umumnya dilambangkan dengan huruf P (proporstion).
Rumus mencari indeks kesukaran soal :
P= B/Js x 100 %
Dengan:
·         P=Indeks kesukaran
·         B= banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
·         Js= jumlah seluruh siswa peserta tes
2). Menentukan tingkat kesukaran, adalah ukuran yang menunjukan derajat kesulitan soal untuk diselesaikan oleh siswa dan mengetahui soal-soal yang termasuk mudah, sedang dan sukar.
Rumus mencari tingkat kesukaran soal
Tk=JB/JJ x 100 %
Dengan:
·         TK= Tingkat kesukaran
·         JB= Jumlah jawaban yang benar
·         JJ= Jumlah jawaban keseluruhan
F=(PH+PL)/2
Dengan:
·         F =Tingkat kesukaran
·         PH = Prosentase pada kelompok tinggi
·         PL = Prosentase pada kelompok renda

Kriteria untuk menentukan indeks kesukaran adalah sebagai berikut

Tabel 6.1 Kriteria Indeks Kesukaran Butir 
Indeks Daya Pembeda
Kategori
           p  ≤ 0,25
Sukar
0,25 < p ≤ 0,75
Sedang
0,75 < p
Mudah


b.     Daya Pembeda
Daya pembeda suatu butir menyatakan seberapa jauh kemampuan butir tersebut mampu membedakan antara kelompok testi (siswa) pandai dengan kelompok testi (siswa) lemah.
            
Daya pembedaan (D) butir tes dihitung dengan rumus :

            D = PH - PL
           

 Keterangan
D    = Indeks Daya Pembeda
PH   = Proporsi Siswa kelompok atas yang menjawab benar butir tes
PL    = Proporsi siswa kelompok bawah yang menjawab benar butir tes

Daya pembeda ini sekurang-kurangnya harus berkualitas cukup kriteria yang digunakan untuk menetukan indeks daya pembeda adalah sebagai berikut



Tabel 6.3 Penafsiran Indeks Daya Pembeda
Indeks Daya Pembeda
Kategori
0,40 < D
Butir sangat baik
0,30 < D ≤ 0,40
Butir baik
0,20 < D ≤ 0,30
Butir cukup
           D ≤ 0,20
Butir jelek



c.       Kelorasi Point Biserial

Satu situasi yang sering terjadi dalam analisis butir adalah jika pengembangan tes ingin mengetahui seberapa jauh hubungan antara jawaban pada suatu butir tes yang diskor secara dikotomis (0 dan 1) dengan skor total (atau kriteria lain yang memiliki distribusi secara kontinyu). Untuk keperluan ini digunakan rumus korelasi point berserial, yakni:
           
 Keterangan
   = koefisien korelasi point biserial
      = Rata-rata skor dari subjek yang menjawab benar untuk butir soal yang akan dicari validitasnya
      = Rata-rata skor total
St           = simpangan baku skor total
P         = Proposal siswa yang menjawab benar pada butir soal dinamakan
q          = proposal siswa yang menjawab salah pada butir soal dimaksud


D.    Analisis Butir Tes Acuan Patokan

Tujuan penilaian acuan patokan adalah untuk mengetahui kemampuan seseorang menurut patokan tertentu. Syarat penilaian ini adalah (1) butir soal yang digunakan harus mencerminkan indikator kemampuan yang diharapkan (ditargetkan), dan (2) kemampuan yang diharapkan tersebut adalah kemampuan yang tidak dapat dikuasai siswa sebelumnya siswa mengikuti proses pembelajaran
Dalam analisis butir tes acuan patokan, yang perlu ditentukan (dianalisis) adalah (1) indeks kesukaran butir, (2) indeks sensivitas butir, dan (3) indeks persesuaian,  indeks kesukaran butir telah dibahas pada bagian analisis butir penilaian acuan norma, oleh karena itu tidak lagi dibahas pada bagian ini.

1.         Indeks sensitivitas butir
Indeks sinsitivitas butir pada dasarnya merupakan ukuran seberapa baik tersebut membedakan antara siswa yang telah dan yang belum mengikuti KMB. Cox dan Vargas (Crocker dan Algina, 1986), memperkenalkan prosedur penentuan sensitivitas pembelajaran dengan cara memberikan pre-test dan post-tes kepada kelompok siswa yang sama. Statistik daya pembeda dinyatakan sebagai:
D = Ppost - Ppre
Keterangan
Ppost      = Proporsi yang menjawab butir soal secara benar pada post-test
PPre       = Proporsi yang menjawab butir soal secara benar pada pre-test 

Masih 30 siswa mengajarkan suatu tes yang terdiri atas 10 butir, sebelum dan sesudah pembelajaran. Hasil tes tersebut dan sensitivitas butirnya disajikan pada tabel berikut:
Indeks sensitivitas butir yang efektif berada di antara 0,00 – 1.00. Semakin besar indeks sensitivitas butir menunjukkan semakin besar keberhasilan pembelajarannya.

2.        Indeks Persesuaian
Ada kalanya pengembangan tes perlu mengkaji kemiripan jawaban dari satu kelompok siswa terhadap setiap kemungkinan pasangan butir yang dibuat dengan spesifikasi sama. Untuk menentukan indeks persesuaian digunakan rumus.

Keterangan
n =  Banyaknya siswa keseluruhan
a =  Banyaknya siswa yang menjawab benar kedua butir
b = Banyaknya siswa yang menjawab salah satu butir 1, tetapi benar pada butir 2
c  = Banyaknya siswa yang menjawab benar butir 1, tetapi salah pada butir 2 
d  = Banyaknya siswa yang menjawab salah kedua butir


 Selanjutnya dapat pula ditentukan proporsi persesuaian yang menunjukkan kekonsistenan dalam menjawab kedua butir. Rumus yang digunakan adalah
P =
Keterangan
P = Proporsi persetujuan 
Selain itu, dapat pula ditentukan apakah taraf kesukaran butir sama dalam populasi siswa. Dengan kata lain, apakah kedua butir tes telah dipelajari siswa dengan cara yang sama baik; ataukah siswa secara signifikan tampil lebih baik pada satu butir dibandingkan dengan butir yang lain untuk itu digunakan rumus.

Misalnya dari hasil uji coba pada 60 siswa diketahui bahwa 30 siswa menjawab kedua butir dengan benar; 12 siswa menjawab butir satu salah tetapi butir dua benar; 8 siswa menjawab butir satu benar tetapi butir dua salah; dan 10 orang yang menjawab kedua butir salah. Data ini dapat dinyatakatan dalam tabel sel berikut

           
Butir 1
Butir 1
+
-
+
-
Butir 2
+
a
b
                       Butir 2
+
30
12
-
c
d
-
8
10

Sehingga didapatkan indeks persesuaiannya
a.       Indeks persesuaian
Nilai X2 ini lebih dari Xtabel = 3,84 (untuk α = 0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedua butir tersebut mengukur hal (isi) yang benar.
b.      Proporsi persesuaian
Ini menunjukan bahwa terdapat konsistensi penampilan pada kedua butir tersebut bagi 66,7 % siswa
c.       Uji X2 untuk perbedaan taraf kesukaran butir
Nilai X2 ini kurang dari X2  tabel = 3,84 (untuk a = 0,05). Dengan demikian, taraf kesukaran kedua butir sama. Dengan kata lain, siswa telah belajar sama baiknya terhadap isi yang diukur oleh kedua butir.

  

DAFTAR PUSTAKA

1 komentar:

  1. Anda Kebingungan Dan Kesulitan Menyelesaikan Skripsi, Tesis, Disertasi
    Karena Pusing Mikirin Olah Data Analisis Statistika Dengan ANATES, SPSS, AMOS
    LISREL, EVIEWS, SMARTPLS, GRETL, STATA, MINITAB dan DEAP 2.1
    Serahkan Dan Percaya Kepada Kami.
    Kami Siap Bantu Anda.
    Olah Data Semarang (Timbul Widodo)
    WhatsApp : 085227746673
    PIN BB : D04EBECB
    IG : @olahdatasemarang

    BalasHapus