Authentik Assessment
A. Pengertian
Penilaian Autentik
Penilaian
Autentik adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran
perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui
oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan
benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa siswa
mengalami kemacetan dalam belajar, guru segera bisa mengambil tindakan yang
tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang
kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, penilaian ini
tidak dilakukan di akhir periode saja (akhir semester). Kegiatan penilaian
dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.
Mueller
(2008) mengemukakan bahwa penilaian autentik adalah suatu penilaian belajar
yang merujuk pada situasi atau konteks dunia “nyata” yang memerlukan berbagai
macam pendekatan untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa
satu masalah bisa memunyai lebih dari satu macam pemecahan. Dengan kata lain,
asesmen autentik memonitor dan mengukur kemampuan siswa dalam bermacam-macam
kemungkinan pemecahan masalah yang dihadapi dalam situasi atau konteks dunia
nyata dan dalam suatu proses pembelajaran nyata.
Penilaian
autentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi atau konteks
“dunia nyata”, yang memerlukan berbagai macam pendekatan untuk memecahkan
masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih
dari satu macam pemecahan. Dengan kata lain, assessment otentik memonitor dan
mengukur kemampuan siswa dalam bermacam-macam kemungkinan pemecahan masalah
yang dihadapi dalam situasi atau konteks dunia nyata. Dalam suatu proses
pembelajaran, penilaian autentik mengukur, memonitor dan menilai semua aspek
hasil belajar (yang tercakup dalam domain kognitif, afektif, dan psikomotor),
baik yang tampak sebagai hasil akhir dari suatu proses pembelajaran, maupun
berupa perubahan dan perkembangan aktivitas, dan perolehan belajar selama
proses pembelajaran didalam kelas maupun diluar kelas. Penilaian otentik juga
disebut dengan penilaian alternatif. Pelaksanaan penilaian autentik tidak lagi
menggunakan format-format penilaian tradisional (multiple-choice, matching,
true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format yang
memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu
performasi dalam memecahkan suatu masalah. Format penilaian ini dapat berupa :
a) tes yang menghadirkan benda atau kejadian asli ke hadapan siswa (hands-on penilaian), b) tugas (tugas ketrampilan,
tugas investigasi sederhana dan tugas investigasi terintegrasi), c) format
rekaman kegiatan belajar siswa (misalnya : portfolio, interview, daftar cek,
presentasi oral dan debat).
B. Tujuan Penilaian Autentik
Tujuan
dari penilaian adalah untuk grading, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan
kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi.
1.
Sebagai grading, penilaian ditujukan untuk menentukan
atau membedakan kedudukan hasil kerja peserta didik dibandingkan dengan peserta
didik lain. Penilaian ini akan menunjukkan kedudukan peserta didik dalam urutan
dibandingkan dengan anak yang lain. Karena itu, fungsi penilaian untuk grading
ini cenderung membandingkan anak dengan anak yang lain sehingga lebih mengacu
kepada penilaian acuan norma (norm-referenced assessment).
2.
Sebagai alat seleksi, penilaian ditujukan untuk memisahkan
antara peserta didik yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak. Peserta
didik yang boleh masuk sekolah tertentu atau yang tidak boleh. Dalam hal ini,
fungsi penilaian untuk menentukan seseorang dapat masuk atau tidak di sekolah
tertentu.
3.
Untuk menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik
telah menguasai kompetensi.
4.
Sebagai bimbingan, penilaian bertujuan untuk
mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam rangka membantu peserta didik
memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk
pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
5.
Sebagai alat diagnosis, penilaian bertujuan
menunjukkan kesulitan belajar yang dialami peserta didik dan kemungkinan
prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan membantu guru menentukan apakah
seseorang perlu remidiasi atau pengayaan.
6.
Sebagai alat prediksi, penilaian bertujuan untuk
mendapatkan informasi yang dapat memprediksi bagaimana kinerja peserta didik
pada jenjang pendidikan berikutnya atau dalam pekerjaan yang sesuai. Contoh
dari penilaian ini adalah tes bakat skolastik atau tes potensi akademik.
Dari
keenam tujuan penilaian tersebut, tujuan untuk melihat tingkat penguasaan
kompetensi, bimbingan, dan diagnostik merupakan peranan utama dalam penilaian.
Untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi penilaian yang paling tepat
adalah penilaian otentik.
Sedangkan
prinsip dari penilaian autentik adalah sebagai berikut :
1.
keeping track, yaitu harus mampu menelusuri dan
melacak kemampuan siswa sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah di
tetapkan.
2.
Checking up, yaitu harus mampu mengecek ketercapaian
kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran.
3.
Finding out, yaitu penilaian harus mampu mencari dan
menemukan serta mendeteksi kesalahan-kesalahan yang menyebabkan terjadinya
kelemahan dalam proses pembelajaran.
4.
Summing up, yaitu penilaian harus mampu menyimpulkan
apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang ditetapkan atau belum.
C. Prosedur Untuk Merancang Authentic Assessment
Sudrajat
(2007) menjelaskan bahwa karakteristik penilaian autentik yang utama adalah
dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, bisa digunakan
untuk formatif maupun sumatif, yang diukur keterampilan dan perfomansi bukan
mengingat fakta, berkesinambungan, terintegerasi, dan dapat digunakan sebagai feed back . Lewin & Shoemaker (1998
dalam Johnson (2009) menjelaskan bahwa untuk merancang penilaian autentik
hendaklah memperhatikan beberapa prosedur berikut:
1. Jelaskan dengan tepat apa yang harus diketahui dan bisa
dikerjakan oleh para siswa. Beritahukan kepada mereka standar yang harus
dipenuhi
2. Hubungkan pelajaran akademik dengan konteks dunia nyata dengan
cara penuh makna, atau lakukan stimulasi dengan konteks dunia nyata yang penuh
makna
3. Tugaskan para siswa untuk menunjukan apa yang bisa mereka
lakukan dengan apa yang mereka ketahui, untuk memperhatikan keterampilan dan
kedalaman pengetahuan mereka, dengan memproduksi hasil-contohnya, produk nyata,
presentasi, dan koleksi hasil tugas
4. Putuskan tingkat penguasaan yang harus tercapai
5. Tampilkan tingkat penguasaan tersebut dalam sebuah rubrik, yaitu
dalam bentuk pedoman penilaian yang dilengkapi dengan kriteria.
6. Biasakan para siswa dengan rubric tersebut. Ajak para siswa
untuk terus menerus melakukan penilaian diri saat mereka meilai kerja mereka
sendiri.
7. Libatkan sekelompok orang lain selain guru untuk menanggapi
penilaian ini.
D. Implementasi Asesmen Autentik
1.
Asesmen Kinerja
Asesmen kinerja adalah suatu prosedur yang menggunakan
berbagai bentuk tugas-tugas untuk memperoleh informasi tentang apa dan
sejauhmana yang telah dilakukan dalam suatu program. Pemantauan didasarkan pada
kinerja (performance) yang ditunjukkan dalam menyelesaikan suatu tugas
atau permasalahan yang diberikan. Hasil yang diperoleh merupakan suatu hasil
dari unjuk kerja tersebut.
Terdapat tiga komponen utama dalam asesmen kinerja,
yaitu tugas kinerja (performance task), rubrik performansi (performance
rubrics), dan cara penilaian (scoring guide). Tugas kinerja adalah
suatu tugas yang berisi topik, standar tugas, deskripsi tugas, dan kondisi
penyelesaian tugas. Rubrik performansi merupakan suatu rubrik yang berisi
komponen-komponen suatu performansi ideal, dan deskriptor dari setiap komponen
tersebut. Cara penilaian kinerja ada tiga, yaitu (1) holistic scoring, yaitu pemberian skor
berdasarkan impresi penilai secara umum terhadap kualitas performansi; (2) analytic scoring, yaitu pemberian skor terhadap
aspek-aspek yang berkontribusi terhadap suatu performansi; dan (3) primary traits scoring, yaitu pemberian skor
berdasarkan beberapa unsur dominan dari suatu performansi.
2.
Evaluasi Diri
Salvia dan Ysseldike (1996) menekankan bahwa refleksi
dan evaluasi diri merupakan cara untuk menumbuhkan rasa kepemilikan
(ownership), yaitu timbul suatu pemahaman bahwa apa yang dilakukan dan
dihasilkan peserta didik tersebut memang merupakan hal yang berguna bagi diri
dan kehidupannya.
Rolheiser dan Ross (2005) mengajukan suatu model
teoretik untuk menunjukkan kontribusi evaluasi diri terhadap pencapaian tujuan.
Model tersebut menekankan bahwa, ketika mengevaluasi sendiri performansinya,
peserta didik terdorong untuk menetapkan tujuan yang lebih tinggi (goals).
Untuk itu, peserta didik harus melakukan usaha yang lebih keras (effort).
Kombinasi dari goals dan effort ini menentukan prestasi (achievement);
selanjutnya prestasi ini berakibat pada penilaian terhadap diri (self-judgment)
melalui kontemplasi seperti pertanyaan, ‘Apakah tujuanku telah tercapai’?
Akibatnya timbul reaksi (self-reaction) seperti ‘Apa yang aku rasakan
dari prestasi ini?’
3.
Esai
(Tes) esai menghendaki peserta didik untuk
mengorganisasikan, merumuskan, dan mengemukakan sendiri jawabannya. Ini berarti
peserta didik tidak memilih jawaban, akan tetapi memberikan jawaban dengan
kata-katanya sendiri secara bebas.
Tes esai dapat digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu
tes esai jawaban terbuka (extended-response) dan jawaban terbatas (restricted-response)
dan hal ini tergantung pada kebebasan yang diberikan kepada peserta didik untuk
mengorganisasikan atau menyusun ide-idenya dan menuliskan jawabannya. Pada tes
esai bentuk jawaban terbuka atau jawaban luas, peserta didik mendemonstrasikan
kecakapannya untuk: (1) menyebutkan pengetahuan faktual, (2) menilai pengetahuan
faktualnya, (3) menyusun ide-idenya, dan (4) mengemukakan idenya secara logis
dan koheren. Sedangkan pada tes esai jawaban terbatas atau terstruktur, peserta
didik lebih dibatasi pada bentuk dan ruang lingkup jawabannya, karena secara
khusus dinyatakan konteks jawaban yang harus diberikan oleh peserta didik. Esai
terbuka/tak terstruktur merupakan bentuk asesmen autentik.
4.
Asesmen Portofolio
Portofolio adalah sekumpulan artefak (bukti
karya/kegiatan/data) sebagai bukti (evidence) yang menunjukkan
perkembangan dan pencapaian suatu program. Penggunaan portofolio dalam kegiatan
evaluasi sebenarnya sudah lama dilakukan, terutama dalam pendidikan bahasa.
Belakangan ini, dengan adanya orientasi kurikulum yang berbasis kompetensi,
asesmen portofolio menjadi primadona dalam asesmen berbasis kelas.
Bagaimanakah
asesmen portofolio membantu memantau pencapaian target kompetensi? Asesmen
portofolio adalah suatu pendekatan asesmen yang komprehensif karena: (1) dapat
mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor secara bersama-sama, (2)
berorientasi baik pada proses maupun produk belajar, dan (3) dapat
memfasilitasi kepentingan dan kemajuan peserta didik secara individual. Dengan
demikian, asesmen portofolio merupakan suatu pendekatan asesmen yang sangat
tepat untuk menjawab tantangan KBK.
Asesmen
portofolio mengandung tiga elemen pokok yaitu: (1) sampel karya peserta didik,
(2) evaluasi diri, dan (3) kriteria penilaian yang jelas dan terbuka.
5. Projek
Projek, atau seringkali disebut pendekatan projek (project
approach) adalah investigasi mendalam mengenai suatu topik nyata. Dalam
projek, peserta didik mendapat kesempatan mengaplikasikan keterampilannya.
Pelaksanaan projek dapat dianalogikan dengan sebuah cerita, yaitu memiliki
awal, pertengahan, dan akhir projek.
E. KEUNTUNGAN
DAN KELEMAHAN ASESMEN AUTENTIK
a. Keuntungan penilaian autentik
Beberapa keuntungan
dari asesmen autentik adalah:
1. Asesmen autentik berorientasi kepada
penilaian proses pembelajaran, dengan demikian melalui penilaian otentik guru
akan dapat mengetahui dimana kelebihan dan kelemahan dari siswa.
2. Asesmen autentik dapat menggambarkan pencapaian seorang siswa dalam
pembelajaran berupa gain atau kemajuan belajar, tidak sekedar ditunjukkan
dengan angka-angka yang dinyatakan dalam rapor.
3. Penilaian dan hasil yang lebih
autentik akan meningkatkan proses belajar mengajar, siswa lebih jelas
mengetahui kewajiban-kewajiban mereka untuk menguasai tugas-tugas yang
diberikan, dan guru yakin bahwa hasil-hasil asesmen itu bermakna dan berguna
untuk meningkatkan pengajaran.
b. Kelemahan penilaian autentik
Beberapa aspek negatif dari asesmen otentik antara lain:
1. Biaya asesmen autentik lebih banyak dibanding tes-tes standar.
2. Asesmen otentik mungkin
kurang reliabel dan valid dibanding bentuk-bentuk asesmen lain.
3. Bagi guru yang menggunakan asesmen otentik dalam kelas, dituntut untuk
lebih pengembangkan pendidikan dan profesionalitas
4. Asesmen autentik tidak
seberguna tes-tes standar bagi para pembuat kebijakan karena asesmen autentik
tidak dapat memperlihatkan trend-trend jangka panjang seperti tes-tes standar
DAFTAR PUSTAKA
i. Abdul Majid, S.Ag, M.Pd, (2008) Perencanaan
Pembelajaran Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
ii. Anas S, Drs, Prof (1995). Pengantar Evaluasi
Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
iii. Arikunto, S. dan Abdul Jabar, (2004). Evaluasi
Program Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.