saya

saya

Senin, 02 Desember 2013

30 November 2013


Tepat pukul 0.56 WITA ,
Semilir angin menghembus di sisi wajah ku. Tengah malam buta, seorang seperti mu menjadi alasan kenapa mata ku masih terbuka. Bahkan bulan sudah nampak menyerah oleh mentari. Kamu menjadi awal dari pagi ku hari ini.
Tengah malam ini, masih saja mata ku  setia menunggu dentingan nada sms . Menunggu mu yang tengah sibuk dengan dunia mu sendiri. Mata ku memang telah terbiasa menjadi sangat tidak peka oleh malam. Menjadi sangat tidak peduli oleh waktu yang memaksa nya untuk berlarut dalam mimpi.Bahkan , akan ada perasaan bangga yang datang ketika mata ku bisa mendengar suara mu .
9 bulan yang lalu, sebelum aku menjadi “kita”. Sebelum kamu menjadi “kita”. Mata ku masih cantik, tidak ada kantung-kantung mata yang membuat nya menjadi aneh . tidak ada kantuk yang mendera ketika pagi menggema. Aku memang tidak berhak memaksa mata ku untuk membiarkan nya melotot memandangi handphone ini. Hanya saja mata ku masih dengan rasa syukur ikhlas menanti sosok palsu ini di ujung malam.
Tuhan,
Aku tau, dibalik senyum yang selalu ku perdengarkan, ada buliran air yang menetes lirih dari kelopak mata ini. Ada tangisan kecil di balik tawa bahagia yang selalu aku berikan. Bahwa ada harapan di bilik bilik retina ini. Salah kah jika mata ku menuntut kebebasan nya ?
Aku tidak berharap apa-apa. Dan aku tidak menuntut apa-apa. Hanya , mata ini telah lelah menunggu sesuatu yang terasa sangat maya. Atau mungkin, hati lah yang menjadi tidak peka dan mati rasa.
Aku tahu, 9 bulan bukan waktu yang sebentar. Tapi 9 bulan juga bukan waktu yang lama. Rentang jarak  dan waktu menjadi penggemar nomer  satu di cerita ini. Bukan seberapa lama “kita” mengenal , tapi seberapa lama “kita” akan tetap percaya ?
Nampak nya, hati “kita” sama-sama telah tergores. Telah sama-sama terluka dan berdarah parah. Tapi siapa kah yang akan menjadi pecundang dalam cinta ini ? Siapa kah yang akan menjadi pemenang dalam cerita ini ?
Mungkin akan ada wanita luar biasa yang tahu “bagaimana harus menggenggam tangan mu dengan erat”. Atau mungkin akan ada wanita yang “setia menunggu mu hingga subuh datang”
Tapi maaf , aku menyerah, aku menyerah, aku lelah. Aku menjadi sangat capek  ketika semua yang aku anggap benar menjadi salah. Semua yang ku anggap suka  menjadi luka. Maafkan kesalahan wanita mu yang benar-benar tahu kebodohan nya.
Tuhan, ajari aku bagaimana cara harus bersikap “tidak peka” . Bagaimana cara harus bersikap “tidak peduli” dengan segala sikap mu. Awal nya aku berfikir bahwa aku mencintai mu, seperti nya aku salah. Lebih dari sekedar itu, aku telah terlanjur menyayangi semua hal tentang mu.
Tuhan, Jika awal harus kembali menjadi akhir . Maka ijin kan semua yang duka menjadi bahagia. Ijinkan yang telah terluka menjadi senyum gembira.


Mencintai sosok seperti mu memang terasa sangat menyakitkan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar