saya

saya

Jumat, 17 Januari 2014

Pengadministrasian tes

Pengadministrasian tes (penyusunan, pelaksanaan, pemberian skor, pengolahan skor)


Pengadministrasian tes adalah pelaksanaan tes yang dimulai dari proses penyuntingan naskah tes sampai dengan proses mengerjakan tes. Pada bab ini akan dibahas langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses pengadministrasian tes. Selain itu juga akan dibahas pula kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam cara pelaksanaan tes dan beberapa media tes tersebut.
                                       

A.  PENYUSUNAN PERANGKAT TES


Dalam penyusunan perangkat tes yang akan digunakan, perlu mempertimbangkan dua hal utama, yaitu :

1.  Penyuntingan Naskah Tes
Suatu naskah tes terdiri atas beberapa butir soal. Dalam penyusunan butir tes haruslah mempertimbangkan beberapa hal yang memungkinkan peserta tes dapat mengerahkan kemampuan terbaiknya dalam mengerjakan tes tersebut sehingga dapat menjadi suatu perangkat tes. Maka yang menjadi pertimbangan utama dalam penyuntingan tes adalah peserta tes. Sehingga perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.       Tes bentuk objektif tidak dilaksanakan secara lisan.
b.       Butir tes disusun berdasarkan pokok bahasan awal hingga akhir.
c.       Tingkat kesukaran tes disusun mulai dari yang termudah hingga yang tersulit.
d.      Butir tes yang setipe hendaknya dikelompokkan dalam satu kelompok.
e.        Petunjuk pengerjaan tes ditulis secara jelas.
f.       Penyusunan butir tes sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesan berdesak-desakkan.
g.      Susunlah setiap butir tes sehingga stem dan seluruh optionnya terletak dalam satu halaman yang sama.
h.       Letakkanlah wacana yang digunakan sebagai rujukan satu atau beberapa butir tes di atas butir tes yang bersangkutan.
i.        Hindarilah meletakkan kunci jawaban dalam suatu pola tertentu. 

2.    Penggandaan Naskah Tes
Dalam proses penggandaan tes haruslah dapat menjamin kerahasiaan naskah tes, sehingga tidak akan mengganggu konsentrasi peserta tes dalam melaksanakan tes. Penggandaan tes sebaiknya terpisah antara lembaran tes dari lembaran jawaban. Beberapa petunjuk praktis dalam penggandaan naskah tes, yaitu :
a.      Antar butir tes harus cukup tersedia ruangan, sehingga tidak terkesan saling berdesak-desakan.
b.      Angka dan huruf yang disediakan di depan alternatif jawaban harus sama dengan yang digunakan pada lembar jawaban.
c.      Untuk jenis tes menjodohkan, kedua ko;om yang berisi tes / alternatif jawaban haruslah terletak dalam satu halaman yang sama.
d.     Butir tes yang menggunakan wacana harus terletak dalam satu halaman yang sama.
e.      Semua wacana, grafik, diagram atau gambar yang digunakan sebagai landasan butir tes harus jelas.
f.       Jika naskah digandakan dalam jumlah yang banyak, maka setiap naskah tes harus sama jelasnya.

B.   PELAKSANAAN TES

Dalam pengadministrasian tes haruslah mempertimbangkan berbagai cara dalam pelaksaan tes. Cara pelaksanaan tes tersebut meliputi :

1.         Open Books VS Close Books
Dalam melaksanakan tes hasil belajar, seorang pengajar memiliki hak penuh untuk menentukan apakah para peserta tes boleh melihat buku/ catatan dan menggunakan berbagai alat belajar seperti tabel, kamus, kalkulator dan sebagainya atau tidak. Boleh atau tidak, keduanya memiliki keuntungan dan kekurangan.
a.       Open Books :
Keuntungan dari open books adalah :
·      Para siswa tidak terlalu tegang dalam menghadapi atau mengerjakan soal.
·      Para siswa lebih cenderung mengerjakan tesnya sendiri daripada harus menyontek kepada temannya.
·      Para siswa akan lebih rajin dalam membuat catatan karena mereka akan sadar dengan kebutuhan catatan tersebut.

Kekurangan dari open books adalah :
·      Para siswa mungkin saja akan malas membaca buku/ catatan
·       Mereka yang jarang membaca buku akan kehabisan waktu ujian membolak-balik lembaran buku untuk mendapatkan jawaban.
·      Para siswa cenderung akan malas berpikir.

 b.   Close Books :
Keuntungan dari close books adalah :
·         Para siswa akan terbiasa untuk memahami isi buku/ catatannya.
·         Para siswa akan terbiasa berpikir sendiri.
·         Para siswa akan terbiasa membuat rangkuman.

Kekurangan dari close books adalah :
·         Akan membuat siswa terdorong untuk menyontek.
·          Siswa belum tentu terlatih menggunakan buku catatan sebagai sumber belajar.
·          Berkurangnya prinsip yang mengatakan bahwa buku itu untuk digunakan bukan  untuk dihafal.

2.         Tes Diumumkan VS Tes Dirahasiakan
Pelaksanaan tes dapat dilakukan dengan memberi pengumuman lebih dahulu atau tanpa pemberitahuan sebelumnya. Para ahli psikologi pendidikan tidak dapat menyetujui adanya tes yang pelaksanaannya tidak diumumkan/ dirahasiakan.
Ada beberapa kelebihan dari tes yang diumumkan, yaitu :
1.     Dapat mengukur pengetahuan siap yang dimiliki oleh siswa.
2.     Dapat memotivasi usaha belajar.
3.     Dapat digunakan sebagai alat peningkatan disiplin belajar.

Keterbatasan tes yang diumumkan adalah :
1.   Dapat  membuat siswa yang tidak lulus atau yang mendapat nilai rendah merasa malu sehingga dapat menghapus motivasi belajar mereka.
2.   Guru yang tidak dapat mengumumkan  nilai siswa tepat waktu akan mendapatkan cemoohan dari para siswa.
3.    Memerlukan kemampuan administrasi yang prima yang  memerlukan fasilitas dan dana tambahan.

Kekuatan tes yang dirahasiakan adalah :
1.   Tidak menuntut kemampuan administratif yang prima dan mahal.
2.   Tidak akan mendapatkan protes-protes dari para peserta didik.
3.   Jika dipandang perlu, maka nilai seorang peserta tes dapat diputuskan dengan mengikutsertakan faktor-faktor non tes.

Keterbatasan tes yang dirahasiakan adalah :
1.   Tes akan dianggap tidak berguna karena tidak komunikatif dengan para siswa yang bersangkutan.
2.   Dapat membuat tenaga pendidik “main hakim sendiri” tanpa diketahui oleh siapa pun.

3.    Tes Lisan Atau Tes Tertulis

Adapun Kekuatan tes tertulis adalah :
1.   Kemampuan memilih kata-kata, kekayaan informasi, kemampuan berbahasa, kemampuan memilih ataupun memadukan ide-ide dan proses berpikir peserta tes dapat dilihat dengan nyata.
2.   Kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik seperti yang disebutkan diatas dapat dibandingkan antara yang satu dengan yang lain.
3.   Dalam waktu yang relatif terbatas dapat dilaksanakan tes yang terdiri atas sejumlah besar peserta tes sehingga ekonomis.
4.   Memungkinkan dikoreksi oleh lebih dari seorang korektor sehingga lebih objektif.

 Keterbatasan tes tertulis adalah :
1.    Khusus untuk tes bentuk esai, tes tertulis dapat menuntut tugas peserta tes yang lebih berat.
2.    Dalam hal tes bentuk esai, maka ketunabahasaan akan merugikan peserta tes yang bersangkutan apabila masalah bahasa diperhitungkan dalam memberi nilai.
3.    Yang bersifat massal itu biasanya kurang baik dibandingkan dengan yang individual.
4.    Siswa cenderung menuliskan jawabannya secara panjang lebar.

Kekuatan tes lisan adalah :
1.                Dapat dilaksanakan secara individual sehingga lebih cermat dan dapat dilakukan “probing” sehingga penguji mampu mengetahui secara pasti dimana posisi hasil belajar peserta didik yang bersangkutan.
2.    Kemampuan-kemampuan seperti yang ada pada tes tertulis yang telah diuraikan diatas dapat dipantau secara langsung oleh tenaga pendidik yang menguji.
3.    Melalui tes lisan dapat memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah dan dialog aktif.
4.    Siswa dapat mengungkapkan argumentasinya secara lebih bebas.

  

 Keterbatasan tes lisan adalah :
1.     Tidak ekonomis
2.     Jika yang melaksanakan tes hanyalah satu orang, maka akan terjadi subjektifitas yang sukar dikontrol.
3.     Bagi peserta tes yang gagap karena karena merasa tegang akan dirugikan dengan cara ini.
4.     Memungkinkan tenaga pendidik “main hakim sendiri”.

4.         Tes Tindakan Atau Tes Praktek

Kekuatan tes tindakan atau tes praktek adalah :
1.  Terjadinya pengecekan terhadap terbentuk atau tidaknya keterampilan yang dirumuskan di dalam TIK.
2.  Membuat pergantian suasana sehingga kejenuhan dapat dikurangi/ dihilangkan.
Keterbatasan tes tindakan atau tes praktek adalah :
1.  Tidak semua bahan dapat diuji praktekkan
2.  Tergolong mahal dan tenaga pendidik dituntut lebih mampu dari siswanya.
3.  Jika prakteknya tidak dalam keadaan yang sesungguhnya maka siswa cenderung akan main-main/tidak serius atau sebaliknya.

C. Pemberian Skor

           Pada hakikatnya pemberian skor (scoring) adalah proses pengubahan jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item dalam instrumen. Angka-angka hasil penilaian selanjutnya diproses menjadi nilai-nilai (grade).
           
Teknik Pengolahan Data
        Adapun pada umumnya, pengolahan data hasil tes menggunakan bantuan statistik. Menurut Zainal Arifin (2006) dalam pengolahan data hasil test menggunakan empat langkah pokok yang harus di tempuh.
1)      Menskor, yaitu memperoleh skor mentah daritiga jenis alat bantu, yaitu kunci jawaban, kunci scoring dan pedoman konversi.
2)      Mengubah skor mentah menjadi skor standar
3)      Menkonversikan skor standar kedalam nilai
4)      Melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui derajat validitas dan realibilitas soal, tingkat kesukaran soal (difficulty index) dan daya pembeda.
           

a)      Cara Memberi Skor Mentah untuk Tes Uraian
            Menurut Zainal Arifin (2011:223) system bobot ada dua macam:
Pertama bobot yang dinyatakan dalam skor maksimum sesuai dengan tingkat kesukarannya.        
                       
 Rumus : skor = ΣX
                            Σs
Keterangan:       
ΣX= jumlah skor
S   = jumlah soal

Kedua, bobot dinyatakan dalam bilangan-bilangan tertentu sesuai dengan tingkat kesukaran soal.

Rumus: skor = ΣXB               keterangan:
                        ΣB                   TK       = Tingkat kesukaran
                                                X         = skor tiap soal
                                                B         = bobot sesuai dengan tingkat kesukaran soal
                                                ΣXB    = jumlah hasil perkalian X dengan B

b)     Cara Memberi Skor Mentah untuk Tes Objektif
            Ada dua cara untu memberikan skor pada bentuk tes objektif:
1.    Tanpa Rumus Tebakan (Non-Guessing Formula)
            Pemberian skor pada tes objektif pada umumnya digunakan apabila soal belum diketahui tingkat kerumitannya. Untuk soal obyektif bentuk true-false misalnya, setiap item diberi skor maksimal 1 (satu). Apabila testee menjawab benar maka diberikan skor 1 dan apabila salah maka diberikan skor 0.
2.      Menggunakan Rumus Tebakan (Guessing Formula)
 Biasanya rumus ini digunakan apabila soal-soal tes itu pernah diujicobakan dan dilaksanakan sehingga dapat diketahui tingkat kebenarannya.
            Adapun rumus-rumus tebakan sebagai berikut:

·      Bentuk Benar-salah (True or False)
                                   
                                    S = ΣB- ΣS
Keterangan:
S          = skor yang dicari
ΣB       = Jumlah Jawaban yang benar
ΣS        = Jumlah Jawaban yang Salah
      

·         Bentuk Pilihan Ganda (multiple choice)
                       
                        S = ΣB  -  ΣS       
                                         n-1

keterangan:
S          = skor yang dicari
ΣB       = Jumlah Jawaban yang benar
ΣS        = Jumlah Jawaban yang Salah
n          = Alternatif jawaban yang disediakan
1          = Bilangan Tetap

D. Pengolahan Skor


a)  Dalam pengolahan dan pengubahan skor menjadi skor standard atau nilai terdapat dua cara yang dapat ditempuh yaitu :
1.    Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada kriterium (Criterion) atau sering juga disebut dengan patokan. Cara pertama ini sering dikenal dengan istilah criterion referenced evaluation. Di dunia pendidikan Indonesia dikenal dengan istilah Penilain Acuan Patokan (PAP) ada juga yang mengatakan dengan istilah Standar Mutlak.
2.    Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dengan mengacu pada norma atau kelompok. Cara kedua ini dikenal dengan istilah norm referenced evaluation. Di dalam dunia pendidikan Indonesia dikenal dengan istilah Penilaian Acuan Norma (PAN)

b)   Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dengan berbagai macam skala, misalnya : skala 5 (Stanfive), yaitu nilai standar berskala lima yang dikenal dengan istilah nilai huruf A, B, C, D dan F. Skala sembilan (Stanine) yaitu nilai standar berskala sembilan dimana rentang nilainya mulai dari 1 sampai dengan 9 (tidak ada nilai =0 dan >10), skala sebelas (standard eleven/ eleven points scale) rentang nilai mulai dari 0 sampai dengan 10, z score (nilai standar z), dan T score (nilai standar T).

c)    Cara Memberi Skor Skala Sikap
           Untuk mengukur sikap dan minat belajar siswa, guru dapat menggunakan alat penilaian model skala, seperti sikap dan skala minat. Skala sikap dapat menggunakan lima skala, yaitu; Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Tahu (TT), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Skala yang digunakan 5,4,3,2,1 (untuk pernyataan positif) dan 1,2,3,4,5 (untuk pernyataan negative). Begitupun dengan skala minat, guru dapat menggunakan lima skala, seperti Sangat Berminat (SB), Berminat (B), Sama Saja (SS), Kurang Berminat  (KB), dan Tidak Berminat (TB).
                                                   
d)   Cara Memberi Skor untuk Domain Psikomotor
            Dalam domain psikomotor, pada umumnya yang diukur adalah penampilan atau kinerja. Untuk mengukurnya, guru dapat menggunakan tes tindakan melalui simulasi, unjuk kerja atau tes identifikasi. Salah satu instrument yang dapat digunakan adalah skala penilaian yang terentang dari Sangat Baik (5), Bai (4), Cukup (3), Kurang Baik (2), sampai dengan Tidak Baik


DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar